Menanti dalam sebuah impian merupakan hal yang sulit dilakukan. Dalam beberapa kejadian membuat seseorang yang menginginkan impian terjungkal. Sulit dalam memahami berbagai tindakan. Rasa yang tak pasti membuat semua jadi berantakan.
Sebelum memulai sesuatu alangkah baiknya menyusun dinding pelindung. Seperti halnya yang dilakukan tukang bangunan yang terus menjadikan dinding dengan bata. Kecil dan selalu di tutupi, bahkan nyaris tanpa celah. Sedikitpun bata tidak pernah diberi peluang untuk menampakan diri. Begitu lekat di masyarakat untuk memasukan bata sebagai bahan wajib untuk membangun sebuah bangunan. Dari mulai rumah kecil sampai gedung pencakar langit mengharuskan bata untuk hadir ditengahnya.
Seperti kisah mandor Mae yang selalu memperhitungkan bata dalam rencana pembangunan awal. Bukan hanya sebagai mandor di lapangan, melainkan dia menjadi seorang ayah dari setiap ladennya.
"Dor, adukan semennya harus segimana biar batanya cukup?" Tanya laden sambil menakar semen dan pasir. "Secukupnya aja," saut Mae tanpa menengok sedikitpun.
Setiap hari dia selalu menutup bata dengan lapisan semen. Melihat bata Mae teringat bahwa setiap perbuatan baik harus ditutupi dengan rapat, sehingga amalnya tak akan pernah keluar seenaknya. Bata yang tak pernah terlihat itu akan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Kekuatan yang diberikan akan tetap dihitung.